Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

TIPS Menyimpan Emas & Perak

TIPS !!!
1. Simpan di tempat aman semisal brankas, box emas atau kaleng anti karat.
2. Hindari dari Api dan Air serta tempat yang kelembabannya tinggi.
3. Hindari perawatan berlebih seperti mencuci dengan memberi hansanitiser, cukup dengan menggunakan tisu dengan lembut.
4. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
5. Jaga Sertifikat pada Dinar dan Dirham, jangan sampai rusak letakkan pada tempat penyimpanan yang rapi

Pencarian

Selasa, 03 Mei 2016

If Man Made It, Don't Eat It

If Man Made It, Don’t Eat It

Akhir pekan ini buku yang saya selesaikan membacanya adalah buku best seller yang konon terjual jutaa-an copy. Ditulis oleh Kevin Trudeau dengan judul “Natural Cures – They Don’t Want You To Know” (Alliance Publishing Group, Inc. 2004). Buku tentang penyembuhan secara alami setebal hampir 600 halaman ini, kesimpulannya hanya satu kalimat – yaitu prinsip dasar apa yang seharusnya kita (tidak) makan, “If Man Made It, Don’t Eat It !”. Mengapa demikian ? Inilah penjelasan ringkasnya.

Berdasarkan riset yang panjang, Kevin menemukan ada empat penyebab utama manusia di jaman ini sakit. Pertama adalah karena terlalu banyaknya racun yang memasuki tubuh kita, kedua karena rendahnya nutrisi dari yang seharusnya kita konsumsi, ketiga dari pengaruh kekacauan electromagnetic di jaman teknologi kini dan yang keempat adalah karena banyaknya penyebab stress mental dan emosional.

Dua dari empat penyebab tersebut adalah terkait langsung dengan makanan yang kita makan sehari-hari. Tetapi ironinya, dengan buku yang dibaca jutaan orang tersebut – ternyata Kevin tidak memberi solusi, dia mengidentifikasi masalah dengan sangat jelasnya – tetapi tidak atau belum ada solusinya.


Solusi ringkas dengan ungkapan “If Man Made IT, Don’t Eat It”, sungguh tidak mudah dijalankan saat ini. Semua makanan kita baik dari produk tanaman maupun hewan telah begitu banyak dicampuri dengan zat-zat buatan manusia, sejak mulai ditanam atau hewan lahir – sampai ketika sudah tersaji dalam makanan kita.

Ketika seorang pasien datang ke dokter mengeluhkan sakit ini-itu, itu sebenarnya sudah langkah terlambat karena dua dari empat penyebab sakit tersebut adanya jauh di depan sebelum pasien datang ke dokter. Adanya di makanan mereka baik dari jenis tanaman maupun dari hasil ternak.

Bayangkan di jaman ini bila Anda menjadi eksekutif perusahaan pertanian komersial, Apa yang Anda lakukan untuk membuat tanaman Anda tumbuh baik, bebas dari penyakit, memberikan hasil yang banyak lagi enak, berumur pendek atau cepat dipanen, dst ?

Hampir pasti Anda akan mengguyur pertanian Anda dengan aneka macam pupuk, pestisida, herbisida, hormon-hormon pertumbuhan sampai bila perlu kutak-katik genetika tanaman dengan apa yang disebut Genetically Modified Organism. Apa yang salah dengan cara ini ?

Semua racun dan sel-sel tanaman yang telah dimodifikasi tersebut tidak akan pernah bisa bersih ketika  hasil pertanian tersebut diolah sampai menjadi makanan kita.

Demikian pula dengan segala macam antibiotika dan berbagai hormone pertumbuhan yang diinjeksikan ke ternak-ternak agar mereka tahan terhadap penyakit dan cepat mengalami pertumbuhan, akhirnya akan terbawa pada daging yang kita konsumsi menjadi makanan kita.

Walhasil karena dua hal ini berada diluar jangkauan para dokter untuk menanganinya, mereka hanya mengobati sebuah akibat – sedang penyebabnya sendiri adanya di tanah-tanah pertanian dan peternakan – maka penyehatan masyarakat  yang komprehensif itu mutlak perlu melibatkan para petani dan peternak.

Di tangan merekalah ujung dari apa yang nantinya masuk ke mulut kita sebagai makanan, bila dari merekanya baik – maka baiklah makanan yang kita konsumsi. Dan sebaliknya, bila di tangan mereka berbagai racun pertanian dan peternakan terus dilanggengkan penggunaannya – maka upaya penyembuhan yang dilakukan oleh para dokter hanya menjadi puncak gunung es dari segala macam penyakit yang merajalela di masyarakat dewasa ini.

Terus membengkaknya biaya kesehatan yang kini dikelola oleh BPJS – menurut saya karena mereka hanya menangani puncak gunung es-nya, tetapi tidak pada segala penyebab yang diidentifikasi oleh Kevin Trudeau dengan sangat jelas tersebut di atas.

Kalau saja saya eksekutif yang memimpin BPJS – dan saya memang memiliki kwalifikasi untuk ini dari profesi saya sebelumnya! maka yang saya lakukan akan sangat berbeda dengan penanganan kesehatan yang mereka lakukan sekarang.

Dari dana puluhan trilyun yang dikeluarkan BPJS untuk membayar klaim kesehatan, dikeluarkan beberapa trilyun untuk membina para petani dan peternak. Di area mana mereka perlu dibina ? di area cara-cara mereka bertani dan beternak, agar mereka tidak lagi menggunakan segala macam pupuk dan obat-obatan yang berasal dari kimia atau buatan manusia.

Kasimpulannya Kevin yang “If Man Made, Don’t Eat It” , saya majukan satu langkah yaitu untuk digunakan petani dan peternak dengan mengubah satu kata saja, yaitu “Eat” Menjadi “Use”. Sehingga kalimatnya menjadi  “If Man Made, Don’t Use It”. Setelah petani dan peternak melakukan ini, maka hasil pertanian dan peternakan mereka akan menjadi aman dan menyehatkan untuk kita semua. InsyaAllah klaim asuransi BPJS akan bisa menurun di tahun-tahun mendatang !

Lebih detil petani diberi panduan yang mudah diingat dan diterapkan, misalnya dengan “7 No” seperti di samping. No Fertilizer, No Pesticides , No Herbicides , No Antibiotics, No Growh Hormones, No GMO dan No Chemical Preserving.

Lantas apa gantinya ? Dengan dana trilyunannya BPJS, pasti tidak sulit untuk memberi pelatihan kepada sebanyak-banyaknya petani untuk dapat mereka membuat pupuk-pupuk organiknya sendiri, demikian pula dengan berbagai jenis obat-obatan organic untuk mengatasi berbagai macam penyakit yang ada di pertanian maupun peternakan.

Well, tetapi karena saya bukan eksekutif BPJS dan tentu tidak memiliki akses dana trilyunan – maka saya hanya melakukan apa yang memang bisa saya lakukan. Bahwa sesungguhnya kita bisa mulai menanam makanan kita sendiri – I Grow My Own Food.

Kita bisa menanam aneka sayur, buah dan bahkan juga bisa beternak yang mengikuti panduan “7 No” tersebut. Kita bisa mulai melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal supply makanan kita sendiri. Mungkin belum bayak berarti pengaruhnya, tetapi setidaknya kita sudah bisa mulai. Saya buatkan video ringkas tentang upaya tersebut yang dapat disaksikan di link ini.  InsyaAllah bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal