Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Jumat, 24 Februari 2017

iGrow Global Campaign

iGrow Global Campaign

Another global campaign by iGrow - My Local Food ! transforming from goods flow into capital flow in agricultural industry. Better environment, job opportunity, wealth distribution and equality. See the Watch video in the following link https://youtu.be/-U3cnrfleos

Senin, 20 Februari 2017

The Drill

The Drill

Di gedung-gedung, kantor dan hotel selalu ada petunjuk bila terjadi kebakaran dimana ngumpul penghuninya dan rute jalan menuju titik berkumpul ini. Demikian pula di tempat-tempat wisata, selalu ada petunjuk arah evakuasi bila terjadi tsunami, letusan gunung berapi dlsb. Bila orang sudah terbiasa dengan petunjuk menghadapi resiko, justru tidak demikian dengan resiko yang teramat sangat besar – yaitu rangkaian peristiwa akhir zaman. Kemana kita akan mengungsi ketika Dajjal turun ? dimana kita seharusnya berada pada saat perang besar terjadi ?

Saat itu kita belum tentu ada, tetapi anak kita lebih berpeluang menghadapinya ketimbang kita, cucu kita lebih berpeluang menghadapinya ketimbang anak kita – begitu seterusnya setiap generasi berikutnya akan lebih mendekati resiko-resiko tersebut, karena akhir zaman pastinya semakin dekat bukannya semakin jauh.

Maka menjadi kewajiban bagi kita untuk mem-pass-on message, meneruskan pesan agar masalah akhir zaman ini menjadi perhatian kita – bahkan lebih dari perhatian kita terhadap resiko-resiko seperti kebakaran, tsunami, letusan gunung api dlsb. tersebut di atas.

Nabi pernah berkhotbah seharian – dari habis subuh sampai menjelang magrib, dan juga pernah men-jama’ sholat untuk bisa menjesakan rangkian peristiwa akhir zaman ini dengan tuntas. Dalam berbagai kesempatan beliau juga menyisipkan pesan-pesan tentang akhir zaman, ini semua menunjukkan betapa pentingnya subject ini untuk menjadi perhatian umat akhir zaman ini.

Mempelajari dan mengingat subject akhir zaman ini bukan lantas membuat kita kehilangan semangat hidup dan apatis terhadap kehidupan, justru sebaliknya yang terjadi – semangat hidup yang luar biasa untuk bekerja dan beramal secara maksimal akan muncul bila kita mendalami subject ini dengan benar. Mengapa demikian ?

Di antara peristiwa akhir zaman adalah akan kembalinya Al-Quds ke tangan umat ini dan kekhalifahan Islam akan berpusat di sana. Saat ini Al-Quds dijajah oleh zionis Israel dengan dukungan sejumlah negeri-negeri maju dengan segala macam kekuatan mereka, ekonomi, teknologi, persenjataan, politik dlsb.

Bukankah kalau kita mau mengalahkan mereka saat ini kita harus lebih di segala bidang tersebut ? Allah juga yang akan menentukan kapan kekuasaan itu akan dikembalikan ke tangan umat, namun dari sisi ikhtiar – kita juga harus berikhtiar secara maksimal di segala bidang agar kita bisa lebih unggul dari mereka saat ini.

Bisa jadi Al-Quds akan kembali ke umat tidak di era teknologi saat ini, tetapi di era pasca teknologi. Inipun mengharuskan kita menyiapkan diri dan anak-cucu keturunan kita untuk perkasa di era itu, pandai naik kuda, memanah, berenang dan bahkan siap merangkak di atas salju.

Kita akan merasakan betapa pentingnya segala persiapan dengan berbagai kekuatan dan skills tersebut untuk kita lengkapi pada diri dan anak cucu kita, mana kala kita bisa melihat dengan jelas tahap demi tahap yang akan kita hadapi ke depan.

Sama dengan sebuah pagelaran besar, setelah melakukan berbagai rangkaian latihan demi latihan sang organizer biasanya melakukan rehearsal atau gladi resik untuk melihat apakah persiapannya sudah sempurna atau ada yang perlu dilengkapi.

Dalam menghadapi resiko seperti kebakaran, tsunami, letusan gunung berapi dlsb – biasa dikenal konsep drill – yang intinya ya latihan plus rehearsal atau simulasi – bagaimana menghadapi situasi tersebut bila benar-benar terjadi.

Maka kitapun bisa membuat drill untuk diri kita saat ini, seberapa siap kita menghadapi peristiwa akhir zaman tersebut bila itu terjadi dalam waktu dekat. Kemungkinan ini selalu ada karena ketika ada yang bertanya ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam 1400 tahun lalu tentang kiamat ini, Allah memberi jawaban “…boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya…” (QS 33:63)

Nah bagaimana kita membuat drill hari kiamat itu untuk kita saat ini ? saya beri contoh untuk beberapa kasus saja – karena peristiwa itu sendiri sangat kompleks. Yaitu yang terkait hadits yang memerintahkan kita bergabung dengan pasukan Al-Mahdi, meskipun harus merangkak di atas salju. Kemudian juga yang menyangkut tempat pasukan terbaik umat ini di bumi Syam, dan negeri yang aman dari fitnah Dajjal – Makkah dan Madinah ( dalam hadits lain disebut juga Masjidil Aqsha dan Bukit Thursina).

Rute Evakuasi Akhir Zaman


Kalau kita melihat lokasi dari rangkaian peristiwa tersebut, kita akan melihat polanya – yaitu pola daerah yang akan menjadi center of gravity dari peristiwa akhir jaman, daerah yang menjadi ‘lokasi evakuasi kita’ dalam menghadapi resiko yang maha dahsyat tersebut.

Dari pola tersebut, bukankah kita tahu negeri yang paling memungkinkan kita bergabung dengan pasukan al-Mahdi atau mengungsi dari fitnah Dajjal adalah negeri Arab dan Bumi Syam tersebut di atas ? Kapan kita sebaiknya bisa ke sana ? Itulah diperlukan simulasi atau drill  tadi, agar kita bisa melihat rute mana yang paling memungkinkan.

Kalau kita akan kesaba setelah hadirnya Imam Mahdi, maka benar seperti yang disebutkan dalam hadits – besar kemungkinan kita akan merangkak di atas salju. Mengapa demikian ? inilah hasil drill-nya.

Dalam hadits disebutkan Imam Mahdi turun setelah tidak ada lagi perdagangan, setelah peristiwa fitnah besar dimana setiap 9 orang, 7 orang terbunuh. Kemungkinan ini adalah setelah Perang Dunia III, yang akan membunuh begitu banyak manusia dan meluluh lantakkan teknologi – era EMP (Electro Magnetic Pulse) dimana semua teknologi akan berhenti berfungsi.

Nah kalau kita atau anak cucu kita ingin menyusul bergabung dengan pasukan Al-Mahdi, saat itu kita perlu melakukan perjalanan darat melalui 10 negara yaitu dari negeri kita – ke Malaysia –Thailand –Myanmar- Bangladesh – India – Pakistan - Afganistan – Iran – Kuwait - Saudi Arabia.

Asumsinya kita punya cara menyebrang selat Sunda dan Selat Malaca (berenang ?), asumsinya kita dapat ijin dari negara-negara tersebut untuk melewati wilayahnya, asumsinya kita survive merangkak di gunung-gunung bersalju di Afganistan, asumsinya kita bisa membaca arah berdasarkan keberadaan gunung, sungai dan bintang  – maka kita baru sampai ke Mekkah sekitar 100 hari berjalan tanpa henti, inipun masih ditambah asumsinya kita punya bekal di perjalanannya.

Jadi kita tahu betapa beratnya untuk sekedar melaksanakan perintah bergabung ke pasukan ini, bila kita lakukannya saat itu. Ada cara lain yang bisa kita tempuh selagi dunia masih relatif normal, perdagangan dan persahabatan masih terjadi – yaitu di jaman ini. Bagaimana caranya ?

Itulah melalui konsep hijrah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan keimanan, dengan membangun persahabatan dengan daerah tujuan Hijrah dan dengan kemampuan berdagang.

Maka inilah drill yang kedua, bagaimana kita bisa membangun keimanan (karena kalau tidak yakin hari akhir itu bisa jadi sudah dekat – kita mungkin akan tetap hidup santai), kekuatan perdagangan dan jaringan persahahabatan – yang sedemikian rupa sehingga kita bisa hidup di mana saja yang kita kehendaki, selagi perjalanan di dunia bisa dilakukan dengan mudah.

Maka dengan melalui drill-drill semacam inilah kita bisa mensimulasikan secara lebih konkrit, rute mana yang kita tempuh yang paling memungkinkan bagi kita dan anak cucu kita persiapkan untuk selamat hingga akhir zaman. Kita butuh prestasi yang begitu menonjol secara global, agar kita bisa hidup dimana saja yang kita yakini terbaik untuk menghadapi rangkian peristiwa akhir jaman.

Kelihatannya berat ? Kalau dilakukan saja – just do it – insyaallah tidak akan terasa berat. Ini saya bayangkan mirip waktu saya kecil dahulu, ayah saya membuat drill atau simulasi – bahwa keluarga besar kita tidak akan bisa survive hidup di desa, kita tidak punya sawah cukup untuk dibagi ke 11 bersaudara. Lebih tidak ada yang dibagi lagi sampai ke generasi berikutnya.

Maka dia berpesan : “le, kamu harus sekolah yang tinggi – agar bisa jadi orang di kota !”, sekian tahun berlalu tanpa kita sadari – benar juga visi bapak kita. Setelah kita bisa menjadi orang di kota, kita tetap bisa bertani di mana saja – jauh lebih luas cakupannya , dibandingkan dengan yang terbayangkan saat itu.

Maka demikian pula seharusnya kita mendidik anak-anak kita sekarang, untuk menjadi generasi yang unggul sedemikian rupa – dalam berbagai bidangnya masing-masing, agar mereka unggul hidup di dunia pada jamannya. Bila mereka menjadi warga unggul dunia, dimanapun mereka berada – mereka bisa berbuat banyak melebihi yang kita bisa bayangkan saat ini.

Agar drill-drill semacam ini mudah digunakan dan diaplikasikan oleh umat saat ini, mumpung teknologi masih bisa kita gunakan saat ini – kita manfaatkan secara maksimal. Bayangan saya drill-drill ini bisa dibuat dalam bentuk apps, sehingga kita bisa membuat berbagai rute – jalan keselamatan yang kita bisa tempuh, membangun perbagai skills, membangun perdagangan dan persahabatan  sebelum era itu tidak lagi berlaku (QS 14:31).

Bila Anda ahli IT, khususnya yang sangat menguasai android apps development , silahkan mendaftar pada link ini untuk bergabung menyiapkan Apps yang akan mensimulasikan/ membuat drill atas peristiwa-peristiwa yang akan terjadi ke depan berdasarkan kabar-kabar nubuwah yang sampai ke kita, agar kita bisa mengambli pelajaran dan mensikapinya dengan benar. 

Jumat, 17 Februari 2017

The Preparedness Check

The Preparedness Check

Sejak peristiwa The Great Depression tahun 1930 di berbagai belahan dunia muncul sekelompok kecil manusia yang menyebut dirinya the preppers, preppy, the survivalist dlsb. Intinya adalah sekelompok manusia yang menyiapkan diri bila sesuatu yang terburuk terjadi di dunia karena satu dan lain sebab. Karena tanpa petunjuk yang jelas untuk mengantisipasi sesuatu yang belum pernah terjadi, maka cara yang mereka lakukan juga aneh-aneh sehingga malah sering menjadi ejekan. Ironinya adalah umat Islam sebenarnya diberi petunjuk yang sangat jelas untuk mengantisipasi berbagai kejadian yang menuju pada peristiwa akhir jaman ini, tetapi sangat sedikit dari kita yang siap – mari kita lihat buktinya bersama !

Yang menjadi trigger peristiwa yang luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya itu bisa berbagai macam, dan dari waktu ke waktu muncul kembali semangat untuk menjadi the preppers ini karena adanya sesuat yang diduga akan mentrigger peristiwa akhir jaman ini.

Misalnya kalau tahun 1930-an munculnya the preppers ditrigger oleh the Great Depression – krisis ekonomi yang meluluh lantakkan ekonomi dunia saat itu, sehingga masyarakat saat itu harus berjuang dengan sangat keras untuk sekedar bisa bertahan hidup.

Selasa, 14 Februari 2017

The Red Hot Chili

The Red Hot Chili

Saya sudah pernah menulis ‘Riba Yang Mengambil Makanan Kita’ yang di-liked ribuan orang, tapi karena sifatnya makro – baru sampai membuat orang paham – belum mendorong orang untuk berbuat. Padahal solusi-solusi berbasis Al-Qur’an itu seharusnya tidak berhenti pada pemahaman – harus sampai tingkat pengamalan, maka saya tulis ulang tentang solusi tersebut dengan pendekatan mikro. Kita lihat bagaimana secara mikro satu saja ayat kita pahami dan amalkan sampai tuntas, insyaAllah akan dapat menyelesaikan masalah yang bahkan pemerintah-un tidak sanggup menyelesaikannya.

Untuk mudahnya kita pahami, saya akan mulai dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Sesuatu yang semula nampak sepele tetapi sering menjadi isu nasional, yaitu masalah harga cabe. Masalah ini selalu berulang, dari waktu ke waktu muncul kembali tetapi tidak pernah terselesaikan dengan tuntas.

Sehingga masalah cabe ini seperti karakter cabe itu sendiri – yang dalam bahasa jawa disebut membuat orang ‘kapok lombok’. Ketika makan cabe kepedesan – rasanya mau berhenti makan cabe, tetapi sebentar saja sudah kambuh lagi – ingin makan cabe lagi.

Jumat, 10 Februari 2017

Santri Di Silicon Valley - Pasca Teknologi

Santri Di Silicon Valley – Pasca Teknologi

Kali ini giliran si santri sengaja mencari waktu Pak Kyai untuk mengadukan kegalauannya setelah belajar di Silicon Valley - yang juga disebut Valley of Gods atau lembah para dewa. Sebenarnya di Amerika sendiri yang semula disebut Valley of Gods adalah Sandstone Valley, di San Juan County – Utah. Tetapi di jaman modern ini orang men-dewa-kan teknologi dan penguasaan ekonomi, maka penyebutan lembah para dewa itu beralih ke Silicon Valley. Karena disinilah bersemayam para ‘dewa-dewa’ modern itu. Lantas apa yang membuat si santri galau ?

Hampir semua yang kita pakai di jaman ini bermuara di lembah ini. Dengan apa kita berkomunikasi satu sama lain sekarang ? bukan lagi dengan menelpon – telephone tidak lagi untuk menelpon, tetapi untuk chatting, social media dlsb. Dengan apa kita berdakwah sekarang ? menggerakkan massa yang jumlahnya tidak terbayangkan sebelumnya ? dengan WA, Facebook, Youtube dlsb.

Dengan apa kita mencari jalan yang bebas macet untuk bisa sampai ke kantor tepat waktu ? dengan Waze, Google map dlsb. Dan dengan apa kita mencari dan menyebarkan content-content dakwah mutakhir kita ? dengan search engine Google utamanya, dst. Pendek kata dari bangun tidur sampai tidur kembali, kita berinteraksi dengan aplikasi yang bermuara di lembah ini.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal