Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Selasa, 10 Juli 2018

Green Gold for 9 out of 17 Goals

Green Gold for 9 out of 17 Goals

Seluruh negara-negara di dunia yang bernaung dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sepakat untuk mencapai target bersama pada tahun 2030, yaitu apa yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Dari 17 pencapaian yang menjadi target tersebut , saya melihat setidaknya ada 9 target diantaranya bisa dicapai melalui perantaraan satu tanaman saja. Satu tanaman yang saya sebut emas hijau atau green gold ini adalah kekayaan negeri ini yang terabaikan selama ini, dialah bambu ! Bagaimana bisa ?

Dari ratusan jenis bambu yang kita miliki, sebagian besar bisa hidup di seluruh wilayah negeri ini – baik di wilayah yang paling basah seperti Bogor maupun wilayah-wilayah yang paling kering seperti NTT.

Bambu memiliki kegunaan yang sangat beragam, dia bisa menjadi food – makanan yang lezat dan bernutrisi ketika dia masih muda yang disebut rebung. Menjadi fiber – bahan kertas ramah lingkungan dan bahan serat tekstil berkwalitas tinggi.

Selasa, 03 Juli 2018

Salam Revival

Salam Revival

Masih di seputar upaya mengatasi kegalauan sejumlah pihak karena turunnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang kemudian mentrigger kenaikan suku bunga acuan BI, rentetan berikutnya adalah naiknya suku bunga pinjaman perbankan, melemahnya sektor riil karena menurunnya pasokan modal, hilangnya pekerjaan atau setidaknya tidak bertambahnya lapangan pekerjaan, pendek kata masa depan suram bagi para pencari kerja. Tetapi harus kah ini yang terjadi ? Adakah jalan lain agar siklus 10 tahunan ini tidak berulang ?

De Ja Vu 20 tahun lalu, ketika Rupiah jatuh ke titik nadir sempat sesaat sampai Rp 16,000/US$. Krisis besar tahun 1998 tersebut sifatnya regional, bukan hanya Indonesia yang terkena tetapi juga Asia Tenggara pada umumnya. Thailand dan Malaysia-pun kena tetapi yang paling terpuruk memang Indonesia. Bahkan krismon tahun 1998 tersebut menjadi salah satu penyebab berakhirnya rezim Orde Baru setelah 32 tahun dengan perkasa berkuasa.

Sepuluh tahun kemudian, krisis itu malah lebih besar skalanya secara global yaitu krisis financial 2008. Pemicunya adalah kegagalan subprime mortgage di Amerika Serikat, namun dampaknya sangat luas. Bukan hanya Amerika Serikat sendiri yang sempat sempoyongan, tetapi juga sejumlah negeri di Eropa. Negeri lain di seluruh dunia bahkan juga kena dampaknya meskipun dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Senin, 02 Juli 2018

Tokenomics and Divine Money

Tokenomics and Divine Money

Di tengah terpuruknya nilai Rupiah yang menimbulkan simalakama ekonomi - dijaga dengan suku bunga tinggi bisa mengerem laju pertumbuhan ekonomi sementara bila dibiarkan merosot akan menimbulkan ketidak percayaan dan kepanikan masyarakat – maka ada tiga pilihan kita, menoleh ke belakang, melihat jauh ke depan atau melihat ke satu arah yang menyajikan keduanya – yaitu petunjuk. Ketiganya saya uraikan di sini.

Melihat ke belakang, kita bisa setel jaraknya – mau setengah abad terakhir ? hasilnya kurang lebih seperti pada grafik di bawah. Uang kita memang bergejolak dari waktu ke waktu, tetapi trend daya belinya cenderung menurun jauh lebih cepat dari uang lain di dunia seperti Dollar misalnya.

Senin, 25 Juni 2018

Farmers With Their Own Satellite

Farmers With Their Own Satellite

Negeri kincir angin Belanda luasnya hanya sekitar 40,000 km2 - sedikit lebih luas dari Jawa Barat (37,000 km2) tetapi lebih kecil dari Jawa Timur (47,000 km2) – merupakan negeri yang luar biasa dalam urusan pertanian mereka. Betapa tidak, negeri ini merupakan eksportir produk-produk pertanian nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Bagaimana bisa ? bukankah pertanian selalu identik dengan tanah yang luas ? ternyata tidak, sama dengan usaha lainnya - pertanian adalah terkait optimalisasi resources – bukan pada potensi dari resources itu sendiri.

Justru karena kecilnya, maka negeri seperti Belanda bisa menggunakan sumber dayanya secara maksimal sehingga bisa unggul dalam produksi pertaniannya. Ditambah jumlah penduduk negeri itu yang hanya sekitar 17 juta Jiwa atau kurang dari separuh penduduk Jawa Timur (39 juta), membuat mereka mampu mengekspor sebagian besar dari produksi pertaniannya.

Sebaliknya kita di Indonesia, penduduk kita sangat besar otomatis konsumsi produk-produk pertanian juga sangat besar. Luas lahan kita juga lumayan besar sebenarnya, namun menyebar di ribuan pulau-pulau yang besar dan kecil yang membuat integrasinya tidaklah mudah.

Jumat, 22 Juni 2018

Nano Farmer – A Vision Sharing

Nano Farmer – A Vision Sharing

Dunia terancam loss generation in agriculture, bukan hanya di negeri kita tetapi juga di negeri maju seperti Jepang. Pasalnya anak-anak muda kehilangan minat untuk terjun di dunia pertanian, sehingga bertani hanya didominasi oleh orang-orang yang sudah sepuh. Di sisi lain saya melihat minat sejumlah ahli dengan antusiasnya menggarap pertanian ini, karena mereka melihat ada masa depan yang sangat menjanjikan di sektor ini. Salah satunya yang akan ikut merubah sektor ini adalah teknologi nano, maka selamat datang era petani nano !

Era teknologi nano sudah mengetuk pintu untuk menggantikan teknologi mikro yang menjadi platform dalam perkembangan teknologi – khususnya digital – yang mendominasi dunia setengah abad terakhir. Lantas bagaimana teknologi nano akan merubah dunia pertanian kita,  lha wong era teknologi mikro saja dunia pertanian nyaris tidak bergeming ?

Berikut saya berikan contoh dalam empat kategori aplikasi teknologi nano di dunia pertanian, berdasarkan kedekatannya dengan implementasinya di lapangan dari sudut pandang kami sebagai salah satu pengembang teknologi  ini.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal