Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Kamis, 20 Juli 2017

1 Dinar Untuk 1 Ayunan Kapak

1 Dinar Untuk 1 Ayunan Kapak

Bayi-bayi yang terlahir di Indonesia beruntung, ketika terlahir cenger ‘hanya’ menanggung hutang sekitar Rp 15.6 juta (US$ 1,200) per kepala. Bila dia terlahir di negeri kaya dan sedikit penduduk seperti Luxemburg hutangnya langsung RP 87.5 milyar (US$ 6,733,000) sejak lahir cenger. Itulah ironi dunia saat ini, negeri kaya juga negeri pengutang paling banyak – dan tidak ada plan untuk membayarinya. Mungkinkah kita bisa membangun negeri tanpa berhutang ? Saya melihat ada kemungkinannya, salah satunya melalui social startup.

Senin, 10 Juli 2017

Food 2.0

Food 2.0

Hampir tiga tahun lalu saya menulis In Search of New Food yang antara lain mengidentifikasi sukun (bread fruit) dan kelor (moringa) sebagai alternative bahan pangan kedepan. Bread fruit akhirnya bener-bener kita tanam dalam skala komersial sebagai bagian dari program iGrow My Own Food (iGrow.Asia). Namun penanaman bahan-bahan pangan baru ini umumnya dilakukan oleh petani dalam skala besar atau bahkan di negeri maju dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Bagaimana kalau masyarakat kebanyakan yang hidup di kota – urban people – kita libatkan dalam pencarian bahan pangan baru ini ?

Di event-event Food Summit atau Agritech Summit yang saya ikuti, saya selalu ketemu ide-ide nyleneh dari para peneliti, innovator dan kadang juga perusahaan raksasa untuk pangan masa depan. Ada insect protein dari jangkrik, ada microalgae sebagai sumber functional food dan bahkan juga berbagai upaya untuk menghasilkan daging sintetis.

Kalau toh riset-riset ini berhasil nantinya, berbagai bahan pangan baru tersebut akan dikuasai oleh para industrialis raksasa. Dampaknya masyarakat kebanyakan hanya akan sebagai pasar yang semakin menggantungkan makanannya pada produk industri. Hal ini tentu bukan in the best interest dari sebagain besar penduduk bumi.

Rabu, 05 Juli 2017

Golden Age Challenge

Golden Age Challenge

Di negara-negara maju jumlah penduduk usia lanjut kini sudah melebihi penduduk usia muda antara 12-24 tahun. Negara-negara berkembang seperti kita juga menyusul dengan sangat cepat, PBB memperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 60 tahun pada tahun 2050 akan mencapai 25% dari jumlah penduduk atau mendekati 75 juta jiwa. Pertanyaannya adalah siapa yang akan membiayai segala kebutuhan hidup dari penduduk usia lanjut ini ? Padahal di atas usia 60 tahun umumnya orang tidak lagi produktif, sedangkan kebutuhan biaya hidupnya justru meningkat tajam ?

Mengandalkan dana pensiun dan tunjangan hari tua ? tidak semua orang memiliki dana pensiun dan tunjangan hari tua ini. Kalau toh ada, pada umumnya dana pensiun dan tunjangan hari tua ini nilainya sangat tidak memadai. Mengapa ? Karena iuran yang kita bayarkan sejak bekerja di usia belia, terus tergerus dengan inflasi – sehingga ketika kita pensiun angkanya saja yang besar tetapi daya belinya jauh menurun.

Mengandalkan dari sanak family khususnya anak-anak ? jumlah anak-anak di generasi kita cenderung menurun. Persaingan hidup juga semakin keras pada jaman mereka dewasa, jadi kalau toh kita bisa mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang berbakti pada orang tuanya – kita juga tidak ingin membebani mereka.

Senin, 03 Juli 2017

Responsible Consumption

Responsible Consumption

Ada zat yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh kita dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi bila dia kurang atau tidak ada menjadi sumber segala masalah kesehatan, zat itu adalah mineral. Mineral yang seharusnya tersedia cukup pada bahan makanan kita, ternyata ketersediaannya menjadi semakin berkurang dari waktu ke waktu. Akibatnya adalah adanya ancaman penurunan kwalitas generasi ke depan yang disebabkan oleh penurunan kadar mineral di bahan makanan ini. Ada peluang untuk memperbaikinya, tetapi untuk ini kita harus mau memperbaiki pola konsumsi kita - yaitu menjadi pola konsumsi yang bertanggung jawab.

Karena kebutuhan mineral yang hanya dalam satuan beberapa milligram sampai beberapa gram per hari, sering diabaikan dan luput dari perhatian kita. Akibatnya generasi kita sekarang jauh lebih rentan penyakit dibandingkan dengan generasi sebelumnya, bila kita tidak melakukan perbaikan – penurunan kwalitas kesehatan ini akan berlanjut pada anak-cucu kita.

Jumat, 30 Juni 2017

Congregation Economy

Congregation Economy

Bulan September dua puluh tahun lalu Google baru didaftarkan namanya, Facebook lahir sekitar lima tahun kemudian sedangkan Uber dan Airbnb baru menyusul lebih dari sepuluh tahun kemudian. Kita lihat sekarang, mereka memimpin peradaban teknologi dunia di bidangnya masing-masing – dan saling terkait satu sama lain. Apa yang menghubungkannya ? Selain permodalan, semuanya besar dengan platform teknologi yang sama – yaitu internet. Apa yang akan terjadi dalam dua puluh tahun mendatang ?

Internet seperti yang kita kenal sekarang akan berevolusi lebih lanjut, yang akan terhubung bukan hanya antara manusia dengan manusia tetapi juga antara benda dengan benda. Karena jumlah benda-benda ini sangat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah manusia, maka era Internet of Things atau IoT – demikian orang menyebutnya – akan menghadirkan perubahan yang kemungkinannya jauh lebih dasyat.

Siapa yang akan memimpin peradaban saat itu ? Tentu raksasa-raksasa era internet ini seperti yang saya sebut di atas – mereka yang memiliki starting point yang jauh lebih di depan daripada yang baru belajar. Demikian pula dengan raksasa-raksasa industri dari peradaban sebelumnya tentu tidak mau ketinggalan.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal