Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Rabu, 17 Mei 2017

Halal Tourism Industry

Halal Tourism Industry

Ada yang aneh di lapangan terbang Bangkok ketika saya baru-baru ini diundang untuk menjadi pembicara di conference mereka. Diantara yang menyambut saya dari Tourism Information mereka adalah wanita berjilbab, dan dari lapangan terbang sampai ke tempat conference – di kiri jalan tol setidaknya saya melihat dua masjid yang menonjol ! Ada apa di Thailand ? Tidak ada apa-apa, mereka hanya melihat pasar yang tumbuh pesat – yaitu pasar yang disebut Halal Tourism Industry. Thailand yang rajanya industri pariwisata di region ini, tidak mau ketinggalan dari negeri jirannya yang mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei !

Bukan hanya Thailand sebenarnya yang mengincar penduduk muslim dunia yang mulai meramaikan pasar pariwisata ini. Di Inggris tempat-tempat penting seperti Heathrow Airport, Manchester Airport, Trafford Center dlsb, semuanya  secara jelas memberikan fasilitas sholat bagi Muslim yang mengunjungi negeri itu. Bukan hanya lapangan terbangnya, jaringan makanan cepat saji mereka seperti Subway, KFC dan Nando mulai menampilkan pilihan makanan halal di daftar menu mereka.

Di Jepang hal yang sama sedang terjadi, selain lapangan-lapangan terbang mereka mulai menyediakan tempat sholat – juga jaringan restaurant mulai menyediakan menu makanan halal. Adapun Thailand yang saya sebut pertama di tulisan ini, bahkan Thailand Tourism Authority-nya sampai membuat aplikasi halal agar Thailand lebih Muslim Friendly – kata mereka.

Senin, 15 Mei 2017

Tidak Ada Angsa Yang Tidak Bisa Berenang

Tidak Ada Angsa Yang Tidak Bisa Berenang

Angsa liar tinggal di pohon-pohon pada ketinggian 4 sampai 20 meter di atas air. Telur angsa menetas di malam hari, dan pemandangan pertama yang disaksikan oleh si kecil angsa keesokan harinya adalah ibunya yang melompat dari ketinggian – terjun ke air yang jauh di bawah untuk mencari makan. Tanpa berpikir panjang dan tanpa rasa takut, si angsa kecil langsung terjun ke air mengikuti ibunya – dan mereka survive sejak hari pertamanya di dunia . Tidak ada angsa yang tidak bisa berenang tetapi manusia banyak yang tidak bisa berenang, mengapa ?

Angsa tidak berfikir – apalagi angsa kecil, mereka mengikuti nalurinya dan mereka survive. Manusia diberi jauh lebih banyak dari angsa, kita memiliki akal dan kita memiliki petunjuk. Maka sudah seharusnyalah manusia bisa jauh lebih dari angsa, jauh lebih pandai berenang dalam artian harfiah – yaitu bener-bener berenang. Maupun berenang dalam maknawi, yaitu kemampuannya untuk mengarungi lautan kehidupan.

Kamis, 04 Mei 2017

Menuju Perfect Equality

Menuju Perfect Equality

Tugas yang sangat berat bagi para pemimpin – khususnya di bidang ekonomi – sebenarnya bukan hanya masalah pertumbuhan. Bisa saja pertumbuhan ekonomi itu tinggi, namun bila yang menikmati pertumbuhan itu hanya segelintir orang – maka negeri itu gagal memakmurkan mayoritas penduduknya. Ini yang tersirat dari datanya World Bank dan CIA untuk Indonesia selama lebih dari dua dasawarsa terakhir. Maka pertumbuhan ekonomi kedepan mestinya bukan hanya focus pada growth, tetapi juga harus sangat menekankan pada equality

Selama 20 tahun lebih  dipimpin oleh 6 presiden silih berganti, GINI index kita menurut World Bank melonjak dari angka 30.47 (1984) menjadi 35.57 (2010). Bahkan menurut datanya CIA untuk Indonesia, angka ini telah menjadi 41 pada tahun 2015 lalu. Angka 0 menunjukkan perfect equality atau kesetaraan sempurna, dan angka 100 menunjukkan perfect inequality atau ketimpangan sempurna.

Jadi apa makna trend GINI index yang menaik dengan cepat tersebut ? Pembangunan kita sedang bergerak menuju ketimpangan sempurna ! Setidaknya selama lebih dari dua dasawarsa yang datanya tersedia. Maka harus ada effort yang luar biasa untuk membalik arah ini, dari menuju ketimpangan sempurna kearah menuju kesetaraan sempurna. Tentu kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, tetapi setidaknya arahnya harus berubah !

Selasa, 02 Mei 2017

Small Change, Big Impact

Small Change, Big Impact

Hal-hal kecil yang ada di sekitar kita itu seperti titik dan koma pada suatu kalimat yang panjang. Dia sendiri tidak bermakna apa-apa, tetapi kalimat yang panjang menjadi kacau maknanya bila kita salah menempatkan titik dan komanya. Dalam system ekonomi kita, titik dan koma itu ada pada uang receh – baik yang berupa koin maupun uang kertas yang bernominal kecil. Kita sering risih nggembol uang receh yang menjadi berat di saku kita, tetapi di pintu tol, di putaran pak Ogah, di wc umum, di tempat parkir dlsb. kita menjadi panik manakala tidak ada uang receh.

Uang receh juga menjadi problem tersendiri di toko-toko retail, mereka selalu perlu persediaan receh dalam jumlah banyak sebab kalau tidak  - mereka bisa salah dalam mengelola kembaliannya. Dikembalikan jadi permen salah, langsung disumbangkan juga bermasalah dari sisi accountability-nya, dan dikembalikan dalam bentuk fisik recehnya begitu merepotkan bagi yang mengembalikan maupun yang menerima kembaliannya.

Rupanya dalam skala nasional-pun uang receh ini menimbulkan masalah tersendiri. Sepuluh tahun terakhir saja Bank Indonesia  mengeluarkan koin tidak kurang dari Rp 6 trilyun dan trend-nya terus meningkat. Masalahnya adalah mayoritas koin yang dicetak ini seperti one way ticket, pergi tidak untuk kembali !

Sabtu, 29 April 2017

Collateral Beauty

Collateral Beauty

Alkisah ada petani miskin tetapi memiliki kuda putih yang bagus, semua tetangganya menyarankan untuk menjualnya agar dia bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu kuda yang bagus juga mengundang orang lain yang berniat jahat untuk mengambilnya, tetapi si petani tidak menghiraukan saran para tetangga. Suatu hari kudanya bener-bener hilang dicuri orang, maka tetangganya pada berdatangan dan kebanyakan malah pada menyalahkan si petani. Si petani sendiri tidak bersedih ataupun berduka dengan kehilangan ini, karena dia melihat apa yang tidak dilihat oleh tetangganya – dia melihat collateral beauty !

Ketika para tetangga pada berucap “…bukankah sudah kami beritahu…, …seandainya saja…., I told you so…., kamu tidak akan mendapatkan musibah ini dlsb”, si petani malah menjawab “dari mana Anda tahu kalau ini musibah ?”.

Selang beberapa lama kuda putih si petani yang hilang ternyata balik, bahkan kali ini kepulangannya tidak sendirian, dia membawa rombongan kuda-kuda liar yang menyertainya. Melihat si petani yang kini mempunyai kuda yang banyak, robongan tetangganya berdatangan kembali.

Mereka menyampaikan : “alangkah beruntungnya kamu…, betapa berbahagianya kamu…, betapa banyak kebaikan untukmu…dlsb”, si petani sendiri  tidak menampakkan kegembiraannya yang berlebihan. Malah kepada para tetangganya yang menyampaikan pujian dia balik bertanya : “dari mana kalian tahu kalau ini keberuntungan dan kebaikan untuk saya ?

Tidak berselang lama, anak laki-laki satu-satunya si petani karena kegembiraannya dengan kuda-kudanya yang banyak, gemar berlatih berkuda termasuk dengan kuda-kuda liar yang kini dimilikinya. Suatu saat dia tidak bisa mengendalikan kuda liar yang ditungganginya dan terjatuh, kakinya patah dan tidak bisa disembuhkan.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal