Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Senin, 13 Mei 2019

Food Triangle: Ketahanan Pangan Yang Hakiki

Food Triangle: Ketahanan Pangan Yang Hakiki

Ketahanan pangan atau food security Indonesia yang berada di rangking 65 dunia berpotensi untuk memburuk bila tidak ada solusi yang efektif untuk dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat secepatnya. Hal ini setidaknya terungkap dari data Badan Pusat Statistik yang dirilis baru-baru ini khususnya untuk tanaman beras.

Bila pada tahun 2015 pertumbuhan produksi tanaman pangan untuk beras masih mendekati tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu berada pada angka 4,32% ditahun 2015 menjadi 1,48% di tahun 2018. Ini pula yang membuat terjadinya lonjakan impor beras yang ditahun 2015 hanya 0,86 juta ton menjadi 2,25 juta ton di tahu n 2018.

Namun sesungguhnya negeri ini mempunyai potensi untuk memiliki food security atau tingkat ketahanan pangan terbaik di dunia bila kita mau berfikir out of the box bebas dari kungkungan kebiasaan dan persepsi kita tentang pangan selama ini. Kalau bahan pangan pokok kita, kita persepsikan itu hanya beras maka disitulah kerawanan kita terhadap supply pangan itu bisa muncul. Untuk produksi beras diperlukan lahan-lahan terbaik dengan air yang melimpah dan ini semakin terbatas ketersediaannya di negeri ini. Disinilah letaknya mengapa kita harus berfikir luas untuk urusan pangan ini.

Rabu, 08 Mei 2019

Lalat Hitam Bukan Kambing Hitam

Lalat Hitam Bukan Kambing Hitam



Beberapa tahun lalu saya menulis buku dengan judul "Kambing Putih bukan Kambing Hitam" karena saat itu saya melihat kambing dan juga domba yang penuh manfaat bahkan bukan hanya sebagai sumber protein tetapi juga sebagai kebutuhan untuk pelaksanaan peribadahan umat islam seperti Qurban dan Akikah ini sering dianggap hal yang buruk. Kambing atau domba misalnya dikambing hitamkan sebagai sumber kolesterol dan lain sebagainya.

Maka saat itu saya melihat perlunya untuk "memutihkan" nama kambing sebagai sesuatu yang bermanfaat sangat besar bagi umat manusia khususnya kaum muslimin, yang bahkan mengembala domba adalah pekerjaan terbaik kedua setelah jihad dan aset domba atau kembing adalah aset terbaik.

Tetapi kali ini saya menulis bukan kaitan dengan kambing, saya menulis makhluk Allah lainnya yang selama ini sering kita kambing hitamkan sebagai sesuatu yang menjadi sumber penyakit, kejorokan, bau busuk dan lain sebagainya. Makhluk Allah yang sangat kecil ini tentu tidak bisa membersihkan namanya sendiri dihadapan manusia maka saya bantu memutihkan namanya melalui tulisan ini. Makhluk kecil tersebut adalah Lalat.

Jumat, 03 Mei 2019

Ramadhan Startups

Ramadhan Startups


Dalam beberapa hari kedepan kita InsyaAllah akan sampai kembali ke bulan yang mulia yang kita tunggu-tunggu yaitu bulan Ramadhan. kemuliaan bulan ini kita semua sudah makhfum karena didalamnya terdapat satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan (QS 97: 3). Namun yang mungkin belum banyak yang memahami adalah bahwa dimalam tersebut juga waktunya ketika Allah menjelaskan atau menurunkan dari Lauh Mahfuz segala urusan manusia untuk setahun yang akan datang.

Segala kejadian yang kita alami sebenarnya sudah diputuskan 50.000 tahun sebelumnya, namun pada malam yang penuh berkah itu juklaknya diturunkan atau dijelaskan kepada para malaikat untuk setahun yang akan datang. Tidak ada yang bisa mengubah ketentuan ini kecuali doa yang terkabul dimalam itu. Ini adalah penjelasan atas ayat berikut "pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" (QS 44: 4).

Sabtu, 20 April 2019

Ketahanan Pangan Urusan Siapa?

Ketahanan Pangan Urusan Siapa?


Meskipun terus mengalami kemajuan dari pemerintahan berikutnya, hingga saat ini ketahanan pangan Indonesia masih tergolong rendah paling tidak menurut Global Food Security Index. Indonesia berada di rangking 65 dengan skor 54,8.

Dengan pencapaian tersebut sesungguhnya masih banyak ruang yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ketahanan pangan kita karena segala sumberdaya yang diperlukan untuk ini sesungguhnya tersedia di negeri ini.

Kamis, 04 April 2019

Membaca yang Tidak Tertulis, Melihat yang Tidak Kasat Mata

Membaca yang Tidak Tertulis, Melihat yang Tidak Kasat Mata

 Tidak semisteri seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, mambaca yang tidak tertulis dan melihat yang tidak kasat mata ternyata merupakan bagian yang sangat penting dalam ajaran agama islam. 
Sebagai contoh ayat yang pertama kali turun adalah Iqro' atau bacalah (QS 96:1) padahal Al Qur'an turun ke Nabi yang Ummi atau tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Jadi yang disuruh membaca apa? tentu bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Kemudian bagian keimanan pertama yang disebut di Al Qur'an adalah iman kepada yang ghaib (QS 2: 3).

Jadi kalau kita tidak bisa membaca yang tidak tertulis dan tidak bisa melihat apa yang tidak kasat mata maka kita akan kehilangan bagian terbesar dari ajaran agama ini dan juga kehilangan keimanan kita.

Untuk melihatnya lebih detail berikut saya berikan contohnya. Semua benda dan peristiwa sesungguhnya ada di ayat-ayatNya, tetapi karena Al Qur'an hanya sekitar 6000-an ayat atau sekitar 600-an halaman kitab tentu tidak cukup untuk menulis seluruh benda dan peristiwa tersebut.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal