| Oleh Muhaimin Iqbal | |
66 tahun lalu para pemimpin bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan negeri kita, tentu kita patut bersyukur karena satu jenis penjajahan telah terusir dari negeri ini. Namun perjuangan untuk dapat memaknai kemerdekaan yang sesungguhnya – nampaknya masih akan panjang, karena setelah 66 tahun merdeka-pun rata-rata anak bangsa ini masih secara fisik tumbuh lebih pendek dari seharusnya. Salah satu penyebabnya adalah karena rata-rata kita hanya mampu mengkonsumsi daging kurang dari ¼ dari yang dikonsumsi rata-rata penduduk dunia. Bahkan bangsa yang menu lauk–pauknya tahu dan tempe ini, ternyata juga belum mampu memproduksi kedelainya sendiri – hampir 4/5 konsumsi kedelai kita adalah kedelai impor – padahal negeri lain yang sama-sama di equatorial belt dan penduduknya tidak makan tahu dan tempe saja mampu memproduksi kedelai yang melimpah sehingga negerinya dijuluki soylandia. Negeri hijau royo-royo yang seharusnya menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya berbagai ternak penghasil susu seperti sapi dan kambing ini, ternyata juga menjadi pengimpor susu bubuk nonfat terbesar di dunia !. Setelah satu generasi berlalu pasca kemerdekaan, ternyata masih begitu banyak PR kita yang belum bisa kita kerjakan – maka tentu kita tidak ingin mewariskan lebih banyak PR lagi bagi generasi yang akan datang. Mereka barangkali akan menghadapai berbagai masalahnya sendiri yang muncul bersamaan dengan perkembangan jaman, namun jangan dibebani dengan masalah-masalah yang seharusnya bisa kita atasi di jaman kita ini. Trend semakin pendeknya rata-rata penduduk negeri ini yang bisa menjadi indikator nyata akan kurang berhasilnya negeri ini menyediakan pangan yang cukup dan terjangkau bagi rakyatnya, harus menjadi pemicu bagi kita untuk mampu membalikkan arahnya. Kita tidak boleh membiarkan keturunan yang terus melemah sebagaimana firmanNya : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS 4:9). Jangan sampai kita menyisakan puing-puing bumi yang telah keropos karena telah dikuras habis sumber alamnya. Jangan sampai kita biarkan bumi menjadi semakin panas, air minum menjadi semakin langka dan udara semakin tercemar karena pohon-pohon di negeri ini habis ditebang – dan tidak cukup upaya untuk menanamnya kembali. Jangan biarkan lahan hijau untuk ternak-ternak penghasil daging dan susu menjadi semakin langka di negeri ini. Jangan biarkan kesenjangan ekonomi menjadi semakin lebar, diatas kertas pendapatan per kapita meningkat tetapi sejatinya penduduk miskin juga meningkat karena sumber-sumber kekayaan hanya dikuasai segelintir orang saja di negeri ini. Untuk mengatasi hal ini hendaklah kita ikuti petunjukNya : “…Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”. (QS 59 :7). Dari ayat-ayat yang saya kutip tersebut diatas, kita pahami sekarang PR utama kita yaitu agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, dan agar kemakmuran itu tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Lantas dari mana kita akan mulai mengerjakan PR tersebut ?. Alhamdulillah kita sekarang hidup di jaman teknologi, di mana perubahan di segala bidang bisa terjadi dengan begitu cepat. Bila Google dan Facebook saja bisa begitu banyak membuat perubahan di dunia, kita yang diberi “…petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu…” (QS 2 : 185) – masak kita tidak mampu membuat perubahan yang lebih baik ?. Maka pada bulan ini, “…bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an…”, insyaallah bisa menjadi bulan yang sangat tepat bila kita mau mulai merencanakan suatu perubahan yang besar pada diri kita – perubahan yang didasari oleh ‘turunnya’ ayat-ayat Al-Qur’an di hati kita dan mengiringi setiap langkah yang akan kita lakukan kedepan. Seperti waktu sekolah dahulu, mengerjakan PR akan lebih menyenangkan bila dilakukan bersama teman-teman. Maka PR besar tersebut diatas juga insyaallah akan mulai kita kerjakan bersama-sama, melalui program I’tikaf Wirausaha yang kami beri tema “Membangun Kemakmuran Berbasis Al-Qur’an” pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini. Selain materi Al-Qur’an, pada acara tersebut bersama-sama peserta kita akan lakukan identifikasi peluang usaha (7I) dengan petunjuk Al-Qur’an, membangun business model, membangun usaha yang memiliki “ruh” dan insyallah juga sampai melakukan financial modeling exercises-nya. Agar apa yang akan kita diskusikan dan rencanakan selama 10 hari di akhir Ramadhan ini bisa bener-bener menjadi amal yang nyata, maka kami sudah menyiapkan suatu project yang sama sekali baru sehingga bisa diikuti peserta tahap demi tahapnya. Bahkan peserta yang tidak memiliki ide usahanya sendiri dapat menjadi bagian dari project yang kita canangkan ini. Project untuk case study ini kita beri nama HOMYZONE (www.homyzone.com) yang kurang lebih artinya adalah “lingkungan yang nyaman untuk ditinggali”. Case study for I'tikaf WirausahaProject ini adalah project multi dimensi, kombinasi antara brick and click, kombinasi antara industri jasa, keuangan, manufacturing, agricultural, construction, education dan seluruh aspek lain yang kita butuhkan kini dan akan dibutuhkan oleh generasi yang akan datang. Project yang kita beri tagline “everyone has it” inilah yang kita harapkan bisa menjadi kontribusi kita pada generasi yang akan datang. Bila orang-orang sesudah kita nanti berdo’a : “…Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS 59 : 10), mereka akan melakukannya dengan penuh kesungguhan dan tulus ikhlas – bila kita juga bener-bener berbuat yang baik untuk mereka, bila kita bener-bener ikut berperan dalam mempersiapkan ‘kemerdekaan’ yang sesungguhnya bagi mereka. InsyaAllah, Merdeka…!. |
Dinar Emas Islam, Investasi dan Pelindung Aset Anda. Bebas Inflasi dan Bebas Riba
Case study for I'tikaf Wirausaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar