Jumat, 30 Agustus 2019

Tiga Nasihat Pak Kyai

Tiga Nasihat Pak Kyai

Dari waktu ke waktu rumah Pak Kyai di kampung selalu kedatangan tamu yang menyampaikan segala urusannya. Pada umumnya, Pak Kyai selalu memiliki jawaban atau nasihat yang tepat untuk setiap tamu yang berkunjung kepadanya. Ada tiga nasihat utama yang selalu pas dan relevan bahkan untuk manusia modern di zaman ini.
                  Nasihat pertama adalah yang diberikan oleh Pak Kyai ketika yang berkunjung adalah para santrinya yang lagi belajar di pondok nya atau pun dari pondok - pondok lain di sekitarnya. Ketika menerima kunjungan para santri ini, nasihat Pak Kyai yang lebih suka menggunakan bahasa jawa ini adalah 'Sing Rajin Sinaune' atau dalam Bahasa Indonesia 'yang rajin belajarnya', dan para santri pun mahfum karena mereka memang lagi belajar, jadi mendapat nasihat semacam ini tentu sudah pada tempatnya.
                  Nasihat kedua adalah ketika yang datang para santri yang baru menyelesaikan pendidikannya yang hendak pulang kampung atau pindah ke perguruan lain atau kota lain. Maka, untuk mereka ini nasihat Pak Kyai adalah 'Sing Apik Amale' atau 'yang baik amalnya', dan para santri senior ini pun paham dengan nasihat tersebut, karena umumnya mereka juga waktunya untuk mengamalkan ilmu.

Rabu, 28 Agustus 2019

Productivity Gap and Capital Trap

Productivity Gap and Capital Trap

Sudah hampir setahun ini saya nyaris tidak bisa membaca dan menulis karena harus menjalani serangkaian operasi mata yang sampai saat ini sudah berjalan 6 kali, dan mudah -mudahan yang ketujuh minggu depan merupakan final-nya. Namun, kerinduan untuk bisa menulis dan menyapa komunitas pembaca tulisan saya mendorong saya untuk tidak sabar menulis lagi, meskipun harus dibantu oleh orang lain.
                  Bisa Anda bayangkan bila pekerjaan utama kita itu adalah membaca dan menulis, kemudian pada suatu hari Anda sama sekali tidak bisa membaca dan menulis lagi, apa jadinya ? ternyata tidak seburuk yang dibayangkan kebanyakan orang, karena ketika Allah mengurangi satu nikmat-NYA pada diri kita, Dia menambah kita dengan nikmat yang lain. Ini juga untuk menjawab pertanyaan masyarakat yang biasa membaca tulisan saya hampir setiap hari dahulunya, kemudian tiba - tiba tidak menulis sama sekali.
                  Periode itu karena saya berusaha memahami nikmat lain apa yang ditambah oleh-NYA ketika nikmat penglihatan saya dikurangi hingga pernah nyaris tinggal kurang dari 10% nya. Salah satu nikmat yang baru saya sadari belakangan adalah berupa kemampuan untuk bisa melihat yang tidak kasat mata, membaca yang tidak tertulis, dan mendengar yang tidak bersuara.