Selasa, 21 Agustus 2018

Water Crisis in Best Islands of the World

Water Crisis in Best Islands of the World

Publikasi terkemuka industri wisata dunia Travel+Leisure bulan lalu menyajikan pilihan para pembacanya untuk pulau-pulau terbaik di dunia. Top three dari 15 pulau terbaik dunia, ketiganya adalah pulau-pulau di Indonesia yang berdampingan satu sama lain yaitu no 1 Jawa, no 2 Bali dan no 3 Lombok. Ini kesempatan Indonesia untuk mempromosikan industri  pariwisatanya secara massif, namun lebih dari itu - ini juga kesempatan bagi kita semua untuk menyadarkan dunia akan isu lingkungan wa bil khusus - masalah ketersediaan air bersih untuk kelangsungan kehidupan kita di bumi ini.

Selama setengah abat terakhir, sumber daya air - renewable internal freshwater resources - di Indonesia menurut data Bank Dunia turun dari angka 21 ribuan meter kubik per kapita, angka itu kini tinggal di kisaran 7,000-an.

Angka tersebut sebenarnya masih cukup tinggi. namun masalahnya sekitar 60% penduduk Indonesia justru tinggal di tiga pulau terbaik tersebut di atas yaitu Jawa, Bali dan Lombok - dimana sumber daya air yang tersedia hanya sekitar 4% dari seluruh sumber daya air tawar yang ada di Indonesia.

Senin, 20 Agustus 2018

Carbon and Water Offset

Carbon and Water Offset

Udara bersih yang kita hirup dan air bersih yang kita minum - adalah dua unsur vital kehidupan yang selama ini kita take it for granted - ujug-ujug ada tinggal diambil. Kenyataannya memang demikian ketika alam masih seimbang, pohon yang memproduksi oksigen dan menyerap CO2 masih lebih dari yang membutuhkannya. Demikian pula masih ada akar-akar pepohonan yang mampu mengelola air lebih dari cukup. Namun kemewahan udara dan air bersih ini kini tidak lagi kita miliki.

Peningkatan pencemaran udara sudah mengarah kepada tingkat yang membahayakan sampai sangat membahayakan, sementara 2/3 penduduk bumi akan kesulitan air bersih kurang dari satu dasawarsa ke depan. Udara dan air bersih kini menjdi dua unsur kehidupan yang tidak lagi ujug-ujug ada, perlu kerja keras kita semua untuk dapat terus menghadirkan keduanya secara berkesinambungan - lebih dari kecepatan kita dalam mengkonsumsi atau merusaknya.

Ini adalah beberapa data yang kami kumpulkan dari riset awal kami di Biosphere Project - suatu proyek untuk menyembuhkan alam yang kini tengah sakit. Hasil ini terbuka untuk diperbaiki, dan kami mengundang para mahasiswa S1, S2, S3 dan para peneliti yang terkait untuk memperbaiki data ini.

Rabu, 15 Agustus 2018

Golden Balance : Financing the Needy

Golden Balance : Financing the Needy

Perdebatan terbuka antara PB IDI dan BPJS membuat saya yang pernah 20 tahun di industri asuransi dan pernah menjadi penguji para ahli asuransi Indonesia terpancing untuk ikut berkontribusi. PB IDI benar bahwa pembatasan jaminan pada bayi yang baru lahir, katarak dan rehabilitasi medis akan dapat mengurangi mutu layanan kesehatan dan bahkan bisa mengorbankan keselamatan pasien.

Di sisi lain dari sudut pandang pengelola BPJS, perbagai upaya penghematan nampaknya terpaksa harus terus dilakukan karena defisitnya yang terus menggelembung. Saya belum berhasil peroleh laporan keuangan terakhir, tetapi per Desember 2017 saja aset neto dari Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatannya sudah minus lebih dari Rp 23 trilyun, atau naik lebih dari 167% dari tahun sebelumnya yang minus Rp 8.6 trilyun.

Artinya ada pemburukan yang sangat dari kemampuan keuangan BPJS dalam melayani pembiayaan kesehatan masyarakat. Bahkan bila pemerintah jadi mengucurkan suntikan dana segar Rp 4.2 trilyun-pun itu sangat belum mencukupi untuk menambal bolong dana yang ada.

Senin, 13 Agustus 2018

Three Steps To Heal The Nature

Three Steps To Heal The Nature

Katika 1400 tahun lalu turun kabar bahwa "...telah nampak kerusakan di darat dan di laut..." (QS 30:41), tidak berarti kerusakan alam saat itu sudah terjadi seperti yang kita hadapi saat ini. Kerusakan alam yang sangat parah baru terjadi belum se-abad terakhir ketika manusia secara massive mengeruk fossil untuk energi dan produk-produk turunannya seperti pupuk kimia, pestisida dlsb.

Tetapi Dia - Sang Maha Pencipta - pengetahuanNya tidak berdimensi waktu, Dia tahu yang sudah maupun yang belum terjadi. Bila dikabarkan bahwa "...telah nampak kerusakan..." maka hal itu pasti terjadi meskipun saat itu belum terjadi.

Penyebab kerusakannya-pun dikabarkan sekaligus, yaitu "...disebabkan karena perbuatan tangan manusia...", dan inipun pasti terjadi. Maka kalau tingkat kerusakan alam itu menjadi-jadi di abad terakhir,  penyebabnya pasti karena perbuatan tangan-tangan manusia yang hidup pada jaman kerusakan ini terjadi.