Selasa, 28 November 2017

After Oil

After Oil

Kalau ada krisis yang begitu imminent – dekat kedatangannya karena bisa dihitung dengan mudah, itulah krisis bahan bakar minyak. Kita hanya punya cadangan 3.23 milyar barrel per tahun 2016, kita ambil 831,100 setiap hari – maka kapan cadangan tersebut akan habis ? sekitar tahun 2027 ! Jadi pasca tahun 2027 amat besar peluangnya kita tidak lagi punya sumber bahan bakar minyak, so what ?

Impor saja seperti yang selama ini toh bisa kita lakukan ? belum tentu bisa semudah itu. Karena bersamaan dengan kita kehabisan cadangan minyak – negeri-negeri maju juga kehabisan cadangan mereka. Inggris dan Jerman akan lebih dahulu habis dari kita, Amerika habis bersamaan dengan kita, dan Perancis menyusul setahun kemudian.

Jadi pada saat minyak kita habis, pasar minyak di dunia yang masih diproduksi oleh Saudi Arabia, Canada, Russia, Iraq, Iran dlsb akan diperebutkan habis-habisa oleh negeri-negeri maju yang sudah kehabisan minyaknya tersebut. Krisis akan memuncak 6-7 tahun kemudian ketika India dan China juga akan kehabisan minyaknya secara hampir bersamaan.

Jumat, 24 November 2017

2035

2035

Saya ‘bermimpi’ berada di tahun 2035, tahun di mana krisis bahan bakar mencapai puncaknya. Sudah setahun lebih China kehabisan cadangan minyaknya (2034), menyusul India yang telah habis setahun sebelumnya (2033). Krisis bahan bakar di dua negeri yang populasi masing-masingnya di atas 1.5 milyar ini (2035), membuat perebutan bahan bakar yang tersisa di dunia menjadi sangat brutal.

Krisis besar sebenarnya sudah bermula beberapa tahun sebelumnya ketika negara-negara berpenduduk terbesar ketiga dan keempat dunia kehabisan bahan bakarnya hampir bersamaan, yaitu Amerika Serikat  dan Indonesia (2027). Hampir bersamaan dengan itu pula sejumlah negara maju seperti Inggris, Jerman dan Perancis juga telah kehabisan bahan bakar minyaknya lebih dahulu.

Sejumlah negera memang masih bisa memproduksi bahan bakar minyak, di antaranya adalah Saudi Arabia, Canada, Russia, Iraq, Iran, Kuwait dan Nigeria. Tetapi karena kebutuhan dunia yang sangat besar saat itu dibanding supply yang ada,  maka negara-negara yang masih punya minyak ini menjadi sangat berkuasa.

Senin, 20 November 2017

Save Fuel, Save Earth

Save Fuel, Save Earth

Kadang data bisnis dan peluang usaha itu muncul dari sumber yang ‘tidak biasa’. CIA misalnya mengeluarkan data public yang tidak mudah kita temukan di tempat lain. Untuk BBM, CIA fact book menyebutkan Indonesia per tahun lalu (2016) tinggal memiliki cadangan minyak sebesar 3.23 milyar barrel. Dengan tingkat pengambilan per hari yang mencapai rata-rata 831,000 barrel, maka minyak kita habis kurang dari 10 tahun yang akan datang. Menurut sumber data yang sama, tahun lalu juga kita sudah impor US$ 6.7 milyar bahan bakar. So what ? Apa yang bisa kita lakukan ?

Yang pertama kita bisa saja cuek dengan data yang demikian, kita teruskan saja pemborosan energi di mana-mana - terutama lonjakan bahan bakar yang terus terbuang di jalan-jalan yang semakin macet to the max -  sambil berharap data mereka salah ! Yang kedua kita bisa lakukan riset sendiri, menggali potensi-potensi sumber energi baru dan terbarukan untuk kebutuhan kita yang akan datang – yang ini menurut saya sudah sangat urgent untuk dilakukan.

Dan yang ketiga adalah mencari berbagai cara agar minyak yang terbatas bisa dihemat dan impor bahan bakar bisa direm laju pertumbuhannya. Lagi-lagi dengan apa kita melakukannya ? ya dengan berbagai sumber yang ada di sekitar kita. Opsi dua dan tiga bisa menjadi peluang tersendiri di dunia startup, kaidahnya bila ada masalah yang begitu besar untuk diatasi – maka bersamanya juga hadir peluang yang sangat besar.

Selasa, 14 November 2017

Supply Chain Innovative Disruption

Supply Chain Innovative Disruption

Inovasi yang bisa memenangkan persaingan usaha itu bukan hanya pada inovasi produk maupun proses industri , bukan hanya pada akses pasar, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah inovasi di bidang supply chain. Perusahaan bisa menguasai teknologi dan produk-produk canggih, bila supply chain-nya lemah maka produknya tidak akan sampai ke pengguna. Pasar bisa dikuasai, tetapi ketika mata rantai supply-nya terputus – pasar itu-pun tidak akan sustainable.

Di sisi lain, inovasi dalam bidang supply chain bisa menghadirkan produk-produk yang sebelumnya tidak feasible untuk dibuat menjadi feasible. Bahan baku yang sebelumnya terbuang-buang, bisa menjadi produk dengan nilai tambah yang tinggi. Produk yang semula membutuhkan ongkos promosi dan packaging yang mahal, menjadi produk yang berfokus pada kwalitas content – bukan pada kemasan.

Untuk memahami konsep ini saya berikan ilustrasi produk sederhana yang kita pakai sehari-hari, minimal dua kali sehari kita memakainya yaitu sabun. Perhatikan sabun mandi yang Anda gunakan setiap hari, betapa mahal bungkusnya, ongkos transportasinya dari pabrik sampai ke kamar mandi Anda, berapa mahal artis yang dibayar untuk product ambassador-nya , berapa mahal iklannya dlsb.

Selasa, 07 November 2017

Opportunity In Citronella-Based Bioindustry

Opportunity In Citronella-Based Bioindustry

Sometimes solution for big problem is just in front of our eyes but we couldn’t see it yet. It may be the case for various problem in sustainable renewable industry, environment, health, job and economic growth. What we need is just to open our eyes and see it around us, what our Lord have given abundant blessing.
  

Rabu, 01 November 2017

Citronella : Si Cantik Dari Jawa

Citronella : Si Cantik Dari Jawa

Citronella bukan nama gadis, tetapi dia merepresentasikan segala sesuatu yang indah dipandang mata dan harum ketika dicium  – yang dalam bahasa arab disebut thiib. Di dunia ada dua jenis citronella yaitu type Ceylon dan type Java, dan type Java inilah yang paling cantik diantara keduanya. Dia mengandung Geraniol dan Citronellal yang lebih banyak, sehingga dia lebih harum. Artinya Jawa dan Indonesia pada umumnya, seharusnya merajai basic industry berbasis citronella ini, mengapa belum ?

Meskipun di dunia citronella sangat dikenal dan dibutuhkan di perbagai industri seperti toiletries (sabun dan sejenisnya), parfum, cosmetics, pertanian, dan bahkan juga industri makanan dan minuman – keberadaan tanamannya sering kita abaikan di sekitar kita. Bentuknya seperti rumput karena dia memang bangsa re-rumputan.